
Bagi masyarakat Indonesia yang dikenal dengan budaya guyub dan kekeluargaannya yang erat, ibadah Haji atau umroh tidak hanya menjadi perjalanan spiritual pribadi. Ada “kontrak sosial” tak tertulis yang sudah mendarah daging, yaitu pulang dari Tanah Suci wajib bawa oleh-oleh.
Bayangkan skenarionya: Sahabat baru saja mendarat di bandara, lelah fisik setelah perjalanan panjang, namun hati bahagia. Di rumah, tetangga, kerabat, teman pengajian, hingga rekan kerja sudah menanti.
Bukan hanya menanti kepulangan Sahabat dengan selamat, tapi juga menanti “berkah” kecil berupa buah tangan dari Makkah dan Madinah. Ada kebahagiaan tersendiri saat kita bisa membagikan sebutir kurma atau seteguk air Zamzam kepada mereka yang belum berkesempatan berangkat, seolah menularkan doa agar mereka segera menyusul.
Namun, di balik tradisi mulia berbagi kebahagiaan ini, tersimpan dilema besar yang sering bikin pusing jemaah, yaitu kapasitas bagasi pesawat.
Maskapai penerbangan biasanya membatasi bagasi jemaah haji/umroh di angka 30 kg hingga 46 kg (tergantung maskapai). Angka ini terlihat besar, tapi percayalah, ia akan cepat habis terisi oleh baju kotor dan perlengkapan pribadi.
Lantas, bagaimana cara membawa pulang sajadah, kurma, kacang arab, dan teko emas tanpa harus membayar denda kelebihan bagasi (overweight) yang harganya selangit?
Mari kita bedah strategi belanja oleh-oleh haji yang cerdas, hemat, dan efisien.
Daftar Isi
1. Air Zamzam: Emas Cair yang Paling Diburu
Oleh-oleh nomor satu, yang paling dinanti, dan tidak ada tandingannya adalah Air Zamzam. Dulu, jemaah sering nekat membungkus jeriken air Zamzam dalam koper baju, melakbannya rapat-rapat, dan berharap lolos dari pemeriksaan x-ray bandara.
Jangan lakukan ini lagi sekarang. Pemeriksaan di Bandara Jeddah atau Madinah kini sangat ketat. Cairan dalam koper bagasi hampir pasti akan terdeteksi dan dikeluarkan paksa oleh petugas (proses sweeping). Sayang sekali jika koper Sahabat dibongkar dan airnya dibuang.
Pemerintah Indonesia dan maskapai biasanya sudah memfasilitasi setiap jemaah haji dengan jatah resmi 5 liter air Zamzam yang akan dibagikan setibanya di asrama haji debarkasi.
Jika Sahabat merasa 5 liter kurang untuk membagi ke sekampung, solusinya adalah membeli air Zamzam tambahan di Tanah Air (lewat distributor resmi yang terpercaya keasliannya) atau mencampur air Zamzam murni tersebut dengan air mineral biasa (metode tahniq), dengan niat mengambil keberkahannya.
2. Kurma: Membawa Manisnya Madinah ke Rumah
Kurma adalah ikon oleh-oleh Arab Saudi. Namun, jangan asal beli “kurma curah” di pinggir jalan jika Sahabat tidak pandai menawar atau memilih kualitas.
- Kurma Ajwa (Kurma Nabi): Ini adalah primadona. Warnanya hitam pekat, teksturnya agak kering namun lembut, dan tidak terlalu manis. Harganya paling mahal namun paling dicari karena khasiatnya.
- Kurma Sukari: Sering disebut kurma raja. Warnanya cokelat terang, dagingnya sangat lembut (basah), dan rasanya manis legit seperti karamel. Cocok untuk lidah orang Indonesia yang suka manis.
- Tips Bagasi: Belilah kurma Sukari di pasar kurma Madinah (seperti Pasar Kurma Al-Kakiyah). Mintalah penjual untuk mem-vakum (vacuum press) kurma tersebut. Kurma yang divakum ukurannya jadi lebih padat/gepeng, hemat tempat di koper, dan lebih awet tidak mudah basi.
3. Kacang-Kacangan dan Cokelat Kerikil
Selain kurma, camilan gurih adalah teman setia tamu yang berkunjung ke rumah sepulang haji.
- Kacang Pistachio (Fustuk): Kacang berwarna hijau dengan cangkang yang sedikit terbuka. Rasanya gurih dan creamy.
- Kacang Arab (Chickpeas): Kacang bulat berwarna kekuningan yang renyah.
- Kismis (Raisin): Pilihlah kismis Simin yang warnanya kuning keemasan dan ukurannya besar-besar. Rasanya asam manis segar.
- Cokelat Kerikil/Batu: Ini favorit anak-anak. Cokelat yang dibentuk dan diwarnai menyerupai batu akuarium. Rasanya manis susu dan harganya sangat terjangkau.
4. Souvenir Non-Makanan: Sajadah dan Tasbih
Jika makanan akan habis dimakan, maka souvenir fisik akan menjadi kenang-kenangan yang awet.
- Sajadah: Pilihlah sajadah tipis bermotif Rawdah atau Masjidil Haram. Sajadah tipis (sajadah travel) lebih mudah dilipat dan tidak memakan tempat di koper dibanding sajadah tebal berbulu. Harganya pun murah jika beli kodi-an (grosir).
- Tasbih: Tasbih kayu kokka atau tasbih digital kecil adalah oleh-oleh yang simpel namun bermakna.
- Parfum & Henna: Minyak wangi khas Arab (seperti aroma Oud atau Kasturi) dan pacar kuku (Henna) juga sangat digemari oleh kaum hawa.
5. Strategi “Tanah Abang”: Solusi Cerdas Tanpa Ribet
Ini adalah rahasia umum yang perlu Sahabat ketahui. Membawa oleh-oleh dalam jumlah masif dari Arab Saudi itu sangat melelahkan dan berisiko over bagasi.
Sahabat, tidak ada salahnya membeli sebagian oleh-oleh di Tanah Abang (Jakarta) atau Pasar Ampel (Surabaya). Faktanya, banyak barang yang dijual di Makkah (seperti sajadah, peci, tasbih, bahkan beberapa jenis kacang-kacangan) sebenarnya adalah barang impor dari China atau Turki, yang distributornya juga mengirim barang yang sama ke Indonesia.
Belilah barang-barang yang sangat khas dan premium (seperti Kurma Ajwa asli Madinah, Air Zamzam, atau parfum mahal) langsung di Tanah Suci secukupnya untuk keluarga inti. Sedangkan untuk oleh-oleh massal (untuk tetangga sekampung atau teman kantor yang jumlahnya puluhan), belilah di Tanah Abang setibanya di Indonesia.
- Keuntungan: Sahabat tidak perlu geret-geret koper berat di bandara, tidak kena denda bagasi, harganya seringkali lebih murah, dan kualitasnya 11-12.
- Esensi: Yang penting adalah niat tulus Sahabat untuk berbagi kebahagiaan. Tetangga tidak akan mengecek barcode sajadah tersebut buatan mana. Doa yang Sahabat berikan itulah yang utama.
6. Kosmetik Jadul yang Nostalgik
Ada beberapa barang unik yang entah kenapa selalu identik dengan oleh-oleh haji, padahal bukan produk asli Arab. Contohnya:
- Cream 21: Krim pelembab kaleng oranye yang aromanya sangat khas.
- Lipstik Arab (Hare): Lipstik berwarna hijau yang jika dioleskan ke bibir berubah menjadi merah muda alami.
- Minyak Angin Cap Kapak: Meski di Indonesia ada, versi Arab sering dianggap lebih “panas” dan manjur. Barang-barang ini memiliki nilai nostalgia tinggi bagi orang tua kita dan seringkali menjadi pesanan wajib.
Kesimpulan: Fokus pada Ibadah, Bijak dalam Berbelanja
Sahabat, berburu oleh-oleh memang menyenangkan. Tawar-menawar dengan pedagang di Pasar Jafariyah atau Bin Dawood memiliki seni tersendiri. Namun, jangan sampai kesibukan belanja mengganggu fokus utama Sahabat yaitu beribadah. Jangan sampai waktu di Masjidil Haram berkurang karena Sahabat sibuk keluar masuk toko emas atau toko karpet.
Ingatlah, oleh-oleh terbaik yang Sahabat bawa pulang bukanlah kurma atau sajadah, melainkan predikat Haji yang Mabrur yaitu perubahan perilaku menjadi pribadi yang lebih baik, lebih sabar, dan lebih dermawan setibanya di Tanah Air.
Dan bagi Sahabat yang saat ini masih dalam tahap menabung dan merencanakan perjalanan suci ini, jangan biarkan masalah biaya menjadi penghalang niat. Persiapkan dana haji dan umroh Sahabat dengan perencanaan yang matang dan sesuai syariah.
Jika Sahabat membutuhkan solusi percepatan untuk bisa segera berangkat ke Tanah Suci bersama keluarga tanpa harus menunggu tabungan penuh berpuluh tahun, Adira Finance Syariah siap menjadi mitra perjalanan Sahabat.
Dengan layanan pembiayaan yang amanah, transparan, dan diawasi Dewan Pengawas Syariah, Sahabat bisa mewujudkan mimpi beribadah sekaligus berbelanja oleh-oleh penuh berkah. Cek informasi pembiayaan umroh Adira Finance. Semoga kita semua dimudahkan untuk menjadi tamu Allah.

