
Oleh: Arinal Aziz (istri tercinta Abati)
Hari ini aku ingin menuliskan sesuatu yang sejak lama tersimpan di hatiku—tentang seorang laki-laki muda yang Allah takdirkan menjadi pasangan hidupku, menjadi abati bagi Fatih dan Nabila, dan menjadi bahu terkuat tempat kami bersandar: Abdul Rozak Ali Maftuhin.
Ini bukan sekadar cerita tentang suamiku. Ini adalah catatan cinta, kenangan, dan syukur. Sebuah tulisan yang ingin kusimpan selamanya, agar suatu hari nanti Fatih dan Nabila bisa membacanya dan tahu betapa keren, hebat, dan berharganya sosok abati mereka.
Dan agar aku sendiri, di mana pun dan kapan pun, bisa kembali membaca ini dan tersenyum—mengingat betapa indah perjalanan yang kami bangun bersama.
Daftar Isi
Menikah Muda, Tapi Tanggung Jawabnya Tidak Pernah Muda
Abati menikah denganku di usia 21 tahun—usia yang bagi banyak orang masih dianggap masa mencari jati diri. Tapi tidak untuknya. Di usia semuda itu, dia memilih untuk menjadi dewasa lebih cepat, bukan karena terpaksa, tetapi karena cintanya begitu besar.
Sejak awal, ada satu hal yang selalu membuatku takjub: rasa tanggung jawabnya tidak pernah setengah-setengah. Dia tidak pernah setengah hadir, setengah mendengarkan, atau setengah berjuang. Jika dia memulai sesuatu, dia akan merawatnya sampai tumbuh, sampai menjadi, sampai berhasil.
Di mataku, dia bukan hanya suami.
Dia adalah pemimpin kecil dalam rumah sederhana kami—yang langkahnya selalu mendahulukan keluarganya.
Cita-Cita Besar, Tapi Hatinya Lembut
Abati adalah laki-laki dengan cita-cita besar. Dia tak pernah takut bermimpi, dan dia tidak pernah ragu untuk mengejar apa yang dia yakini.
Tapi bersamaan dengan itu, hatinya lembut, terutama terhadap keluargaku.
Dia menyayangi orang tuaku dengan tulus, menghargai mereka seolah orang tuanya sendiri. Itu adalah sifat yang tidak bisa dibuat-buat—itu datang dari kedalaman hatinya.
Dan kehangatan itu menjalar ke keluarga kecil kami: aku, Fatih, dan Nabila.
Anak-anak kami mungkin masih kecil, tapi kelak mereka akan tahu bahwa mereka tumbuh dalam rumah yang dipenuhi cinta dan perjuangan seorang ayah yang tidak kenal lelah.
Manajerial yang Kuat, Tekad yang Tidak Pernah Pudar
Salah satu hal yang membuatku kagum adalah kemampuan manajerialnya dalam setiap amanah yang dia emban—baik di rumah, di pekerjaan, maupun di organisasi.
Dia selalu bisa mengatur waktu, menjaga komitmen, menyelesaikan amanah, dan tetap hadir sebagai suami juga ayah.
Mungkin bagi orang luar terlihat biasa. Tapi aku, yang hidup bersamanya, tahu betul betapa tidak mudah hal itu dilakukan.
Satu hal tentang dirinya:
Jika dia sudah berniat, dia akan menuntaskannya.
Jika dia sudah berjanji, dia akan menjaganya.
Jika dia diberi amanah, dia akan mengembannya dengan penuh kesungguhan.
Tekadnya selalu bulat.
Langkahnya selalu mantap.
Dan aku selalu belajar darinya.
Merintis Usaha Bersama: Inspiratips Media
Suatu hari, kami memutuskan untuk merintis sebuah usaha bersama: Inspiratips Media.
Awalnya hanya mimpi kecil, percikan ide sederhana yang kami bicarakan di ruang tamu. Tapi seperti biasa, abati tidak pernah setengah-setengah.
Bersama-sama kami membangunnya.
Dia dengan strategi dan keberaniannya.
Aku dengan kreativitas dan ketekunanku.
Dan dari perjalanan itu, aku semakin yakin:
Aku hidup bersama laki-laki yang tidak hanya mau bekerja untuk masa depannya, tapi ingin membangun masa depan itu dari keringatnya sendiri.
Inspiratips Media tidak hanya tentang usaha.
Ia adalah simbol bagaimana kami bermimpi dan berjuang sebagai satu tim.
Amanah Organisasi yang Dijaga dengan Baik
Di tengah kesibukan rumah, pekerjaan, dan usaha, abati masih menyisihkan waktu untuk amanah organisasi. Dan lagi-lagi, dia menjalankannya dengan sungguh-sungguh.
Aku selalu melihat bagaimana ia mengatur jadwal, mengelola acara, membangun relasi, dan memastikan setiap tugas terlaksana.
Bukan karena dia mengejar gelar.
Bukan karena dia ingin dipuji.
Tapi karena dia percaya pada nilai kebermanfaatan.
Dan itu adalah hal yang membuatku semakin bangga menjadi istrinya.
Untuk Fatih dan Nabila: Inilah Abati Kalian
Anak-anakku sayang,
jika suatu hari nanti kalian membaca ini, ingatlah:
Kalian memiliki seorang ayah muda yang berjuang habis-habisan untuk kalian.
Seorang ayah yang memilih untuk tumbuh dewasa demi menjaga kalian.
Seorang ayah yang mungkin tidak selalu sempurna, tapi hatinya selalu penuh untuk keluarga kecil kita.
Abati kalian adalah contoh tentang:
* bagaimana seorang laki-laki menjaga amanah,
* bagaimana seorang suami menghargai pasangannya,
* bagaimana seorang ayah mencintai anak-anaknya dengan tindakan, bukan hanya kata-kata.
Kenanglah dia sebagai laki-laki yang tidak pernah lelah memperbaiki diri.
Sebagai pemimpin keluarga yang tidak pernah menuntut untuk dipuji.
Sebagai sosok yang membangun hidupnya dengan keberanian, usaha, dan doa.

Dan Untukmu, Abati…
Terima kasih.
Terima kasih karena memilihku.
Terima kasih karena tidak pernah melepaskan genggamanku.
Terima kasih karena menjadi rumah paling hangat dalam hidupku.
Terima kasih karena menjadi ayah terbaik untuk Fatih dan Nabila.
Aku menulis ini bukan untuk dipamerkan.
Aku menulis ini agar setiap kali aku membacanya, aku akan selalu teringat:
Aku pernah, dan masih, dicintai oleh seorang laki-laki hebat bernama Abdul Rozak Ali Maftuhin.
Dan semoga tulisan ini menjadi warisan kecil bagi anak-anak kita.
Agar mereka tahu bahwa ayah mereka adalah salah satu anugerah terbaik yang Allah berikan kepada keluarga kecil ini.

